Senin, 02 November 2015

CERPEN PACARAN DALAM DOA

            Waktu sudah menunjukan jam 06:30.  Dengan semangatnya aku melangkahkan kaki ku untuk berangkat kuliah, aku berkata dalam benakku “aku harus berangkat lebih dahulu dari dosenku dan teman-temanku” ya karena pada hari itu aku mendapatkan tugas presentasi yang sudah ku persiapkan seminggu sebelumnya.

            Setelah berjalan tibalah aku di kelas, dimana mahasiswa maupun mahasiswi sedikit demi sedikit memenuhi bangku yang ada di kelas. Saat suasana yang begitu ramai kemudian datanglah seseorang yang tegap dan melantangkan suaranya di depan kami semua. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh”. Itulah dosenku pagi hari itu, beliau selalu semangat ketika masuk kelas dan selalu memberikan gambaran materi sebelum dimulainya diskusi. Kemudian tiba lah saatnya aku bersama teman-teman sekelompok ku mempresentasikan tugas makalah kami. Presentasi pun berjalan seperti biasanya yang diakhiri dengan kesimpulan. Namun  ada hal yang berbeda pada saat sesi diskusi, ada seorang yang bertanya khusus untukku mengenai materi yang ku bahas. Mungkin hal tersebut sudah biasa tapi entah ada hal berbeda yang mengganjal dalam batinku

            Semejak sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, bayangan wajahnya mulai sering terlihat dalam benakku. Sesekali aku bertemu dengannya di kampus, kadang di kelas maupun di jalan, menjadikan aku semakin bertanya-tanya tentang dirinya. Saat itu lah dimulai  masa berkelana untuk mencari  informasi tentang kepribadiannya lewat media sosial, karena aku tidak mempunyai mental yang besar untuk mencari informasi melalui dunia nyata. Ketika aku mencoba mengenal kepribadiannya dalam diam, ia merupakan sesosok lelaki yang berbeda dengan yang lain, sungguh ia sesosok lelaki yang sangat mudah dikagumi oleh kalangan wanita, itulah yang membuat bayangannya selalu mengikuti anganku Tapi apalah daya aku hanya dapat mengguminya dalam diam, menjadi seorang pengagum rahasia, tidak ada kisah melainkan hanya kasih yang selalu dipendam dalam hati.

            Waktu pun berganti dengan cepatnya, ia masih tak menyadari bahwa terdapat seorang pemuja rahasia di belakangnya. Ia pun tak pernah tegur sapa dengan ku mungkin salah satu alasannya karena ia sesosok lelaki yang cuek dengan perempuan.  Namun, rasa ini masih tetap mengalir bagaikan desiran air, kadang kala terlintas di benakku untuk mencoba menegur dia lebih dahulu agar aku mendapatkan lampu hijau untuk menjalin sebuah kisah indah bersamanya.  Tapi apalah daya aku pun tak menginginkan hal itu terjadi. Karena pada saat SMA aku berjanji untuk tidak menjalin hubungan dengan lelaki sampai lulus kuliah. Itulah sebuah janji yang harus ku penuhi, dalam kondisi ini aku hanya bisa melantunkan cintaku dengan doa untuknya.

            Namun, rasa ini perlahan berubah pada saat aku mengisi sebuah kajian liqo, dimana aku diberi tanggung jawab oleh penyelenggara untuk memberikan materi kepada adik tingkat ku di fakultas yang berbeda.  Tema pada pembahasan kali itu mengenai “Dia segalanya bagiku”. Akupun memberikan penjelasan bahwa “Maksud Dia disini adalah Allah, Allah segalanya bagi kita, kita tidak boleh meletakkan cinta kita kepada Allah diurutan kedua apalagi urutan terakhir. Karena Allahlah yang memberikan segala kenikmatan di dunia dan di akhirat, kita hidup di dunia ini karena Allah, kita dapat merasakan cinta, kasih, sedih, senang karena Allah. Semuanya nikmat dari bangun tidur hingga kita tertidur lagi itu merupakan kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita. Sekarang, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menjadikan Allah sebagai urutan pertama dalam hidup kita”. Seketika ada seorang mahasiswi yang bertanya “mba, gimana jika kita mencintai seorang lelaki?”.  Aku pun langsung menjawab pertanyaan dari salah satu mahasiswi tersebut “Cinta itu fitrah pada hakikatnya, siapapun dapat merasakan hal itu dan Allah pun tidak melarang kita untuk mencintai setiap makhluk yang ada di muka bumi ini. namun, jangan sampai cinta kita kepada orang lain melebihi cinta kita kepada Allah karena ketika kita mencintai orang lain selain Allah, Allah pun akan cemburu pada kita. Apalagi ketika kita mencintai seorang lelaki, biasanya kita malah menjadi lupa dengan Allah, ya mungkin kita tidak melakukan apa-apa tapi ingat dalam sebuah perzinahan terdapat zina hati”. Panjang lebar aku jelaskan pada mereka.

            Pada saat aku sedang menjelaskan materi itu seketika hati ini tersentak, aku baru sadar dengan apa yang ku katakan kepada meraka, bahwa kondisi tersebut terjadi pula pada diriku sendiri. Ya aku seorang pengagum rahasia. Aku merasa malu dengan diriku sendiri, malu dengan mereka yang mendengarkan penjelasanku, khususnya aku malu dengan Allah. Aku dapat menjelaskan semua tentang hal tersebut tetapi nyatanya diriku sendiri tidak bisa mengendalikan rasa ini sehingga membiarkannya mengalir deras begitu saja. Aku mengetahui bahwa cinta ini tak seharusnya ada, seharusnya aku dapat membuang jauh-jauh rasa ini. Aku menyesal dengan semua kondisi yang saat ini aku jalani.

            Aku duduk termenung  di teras depan kamarku “Hentikan semuanya” seperti itulah bisikan dalam hati ku. Tepat setelah kejadian itu aku bertekad untuk membuang jauh-jauh rasa yang ada, menghapus semua bayang-bayang dirinya yang selalu ada dalam fikiranku. Sungguh, sangatlah sulit untuk melupakan bayangannya yang sudah melekat dalam hati ini. Namun, walaupun aku tak dapat menghapusnya secara total, dengan berjalannya waktu mungkin rasa ini dapat menghilang.

             Hari-hari pun berjalan dengan segala aktivitas perkuliahan maupun non perkuliahan yang menyibukkan ku, apalagi saat itu aku sudah menginjak semester akhir, dimana tinggal menghitung hari untuk menuju kesebuah tempat yang akan menjadikan saksi dalam pembacaan yudisium. Yah itulah akhir perjunganku selama 4 tahun menempuh pendidikan S1. Rasanya tak menyangka dapat melalui masa-masa yang  cukup berat ini.

            Tepat bulan ferbuari aku mendapatkan gelar sebagai sarjana ekonomi. Ada rasa senang dan sedih menghampiri pada hari itu. mungkin sedih karena ingin meninggalkan kampus yang menjadi saksi belajar selama 4 tahun dan senang karena hasil dari perjuangan untuk mencapai hingga ke titik ini sudah ku dapatkan. Namun, kedua alasan tersebut tertutupi dengan satu alasan yaitu  aku bertemu sesosok pria yang sudah 3 tahun aku mengaguminya walaupun dahulu sempat aku mencoba untuk melupakannya. Tepat dengan waktu yang sama kami diwisuda bersama. Ketika itu aku ingin mencoba untuk mengucapkan selamat atas wisudanya. Namun, ketika langkah pertama ku ayunkan datanglah sesosok wanita cantik menghampirinya bersama dengan segerombolan keluarga, tidak lain itu adalah keluarganya. Tetapi yang menjadi pertanyaan siapakah wanita muda dan cantik itu. Dari sebelah temanku berkata “wah itu ya yang katanya calon tunangan ka  fauzan, cantik banget ya”. Seketika itu juga hatiku hancur, fikiranku menjadi tak menentu dan lemas badan ini ketika mendengar hal tersebut.

            Ka Fauzan itu lah aku memanggilnya, karena dia termasuk orang yang dihormati oleh teman-teman maka Ia pun dipanggil dengan panggilan kakak. Ka fauzan dia lah sesosok lelaki yang sering ku lantunkan dalam doa dan juga dia yang selalu memenuhi angan dalam jiwaku. Kini  semua itu menjadi sirna dia hanya ada dalam dunia hayalku saja dan tak akan pernah hadir dalam dunia nyataku. Seketika itu juga senyum bahagia diwajahku langsung sirna bagaikan terhempas ombak, air mata ini tidak bisa terbendung lagi. Ingin rasanya ku berbicara dengannya agar dia menyadari bahwa disini ada seseorang yang sedang menunggumu. Namun, kini dia akan menjadi milik orang lain, sebentar lagi ia akan memasangkan cincin kepada sesosok wanita yang datang di acara wisuda bersama keluarganya. Sungguh amatlah sedih ketika sebuah penantian panjang ini hanya menjadi angan semata. Hatiku selalu dirundung kesedihan tetapi aku sadar semua ini adalah sekenario Allah yang paling indah, dibalik semua ini pasti Allah memiliki rencana yang lebih indah dibandingkan rencanaku.

            Selang beberapa lama aku pun dengan cepat mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar di daerah Bekasi. Sangat bersyukur, setelah diwisuda pada bulan februari aku tidak lama menjadi pengangguran di rumah. Hari pun berjalan dengan aktivitas baru ku sebagai seorang pekerja bukan lagi menjadi seorang mahasiswi. Baru ku merasakan ternyata tugas kantor lebih berat dibandingkan dengan tugas kuliah. Namun, dibantu dengan kerjasama rekan kerja di kantor membuatku sedikit ringan mengerjakan semuanya. Di kantor ini aku mempunyai teman baru, suasana baru dan kegiatan baru yang membuatku merasa senang dan juga aku sudah dapat melupakan ka Fauzan mungkin salah satu alasannya karena aku mengetahui kalau dia sudah mempunyai calon tunangan.

            Sudah hampir 1 tahun aku bekerja, hari hari pun berlalu dengan indahnya. Namun, disuatu hari saat karyawan kantor sedang sibuk mengerjakan tugasnya, datanglah sesosok orang yang gagah, dia lah salah satu dewan direksi diperusahaan ku tempat bekerja. Semua karyawan dikumpulkan olehnya, seketika itu pula wajah para karyawan menjadi tegang. Namun yang lebih menegangkan lagi ketika beliau memperkenalkan seseorang yang selama ini aku kagumi dan kini aku sudah melupakannya. Ia pun akan bekerja bersama tim kami sebagai menajer divisi. Sungguh aku kaget melihat dia ada di depan mata ku, akupun tak menyangka akan bekerja dengan dia, dan juga melihat dia setiap hari yang benar-benar aku sudah melupakannya.

            Aktivitas pekerjaan ku pun berjalan seperti biasanya. Walaupun aku bekerja dengan dia tidak menghalangi potensiku dalam bekerja. Dengan pekerjaan yang membutuhkan kerjasama, aku sering bekerja dengannya sehingga membuatku semakin dekat dengannya. Pada suatu hari aku diundang untuk menghadiri sebuah rapat di salah satu tempat makan daerah Bekasi bersama tim kerjaku. Setelah sampainya aku disana ternyata ada ka Fauzan sendiri yang sudah menunggu. Namun, ada hal yang mengganjal di hati, dalam hati berkata
aku kan dateng telat tapi ko yang lain belum pada datang ya, biasanya mereka selalu tepat waktu”.
Dan aku pun langsung duduk tepat di depan dia. Batinku menjadi-jadi baru kali ini aku duduk berdua dengannya.
Dia pun langsung memulai pembicaraannya “fin, sebenarnya kamu diundang disini bukan untuk menghadiri acara rapat kantor namun ada hal lain yang ingin ku katakan pada mu”. Aku langsung kaget mendengar dia berbicara seserius ini pada ku. aku pun bertanya padanya “memangnya pa Fauzan mau ngomong apa pada ku?”.
Ka Fauzan pun mejawab pertanyaanku “Sesungguhnya aku sudah lama ingin mengatakannya pada mu, namun aku belum ada keberanian untuk mengatakannya dan aku pun takut jika kamu tak merasakan apa yang ku rasa, ketika dulu pas kita masih menjadi mahasiswa. Tapi  mungkin ini waktu yang tepat, dilihat dari usia kita yang sudah mencukupi untuk menuju kejenjang yang lebih serius”.
Batinku semakin menjadi-jadi, ka fauzan melanjutkan perkataannya.
Disini, ditempat ini, aku ingin mengatakan bahwa aku ingin menjadikan dirimu sebagai teman hidupku, menjadikan dirimu sebagai ratu didalam sebuah kerajaan kecil ku, menjadikanmu sebagai seorang ibu dari anak-anak ku, kini maukah kamu menikah dengan ku?”.
Aku pun langsung tersentak mendengarnya, sekejap aku tak bisa berkata apa-apa, hingga ka Fauzan menyadarkan ku “fina
Aku  langsung tersadar dari lamunanku, dan bertanya padanya “kan setau aku ka fauzan sudah mempunyai calon tunangan?
“ ya memang dulu orang tua ku menjodohkan ku dengan seorang wanita, anak dari teman ayahku. Tapi, hati ku tak bisa dipaksakan  buat  mencintainya, tak ada namanya dihati ku. Hanya ada kamu yang selalu menghantui hari-hari ku. Sehingga aku memberikan pengertian pada ibu ku dan ibuku pun mau mengerti dengan kondisiku, begitu pula lia (calon tunangannya) setelah ku jelaskan ternyata dia pun mengerti, dan dia juga  tak ada rasa kepada ku, jadi ya sudah dan sesungguhnya aku pun saat itu ingin sekali mencari informasi tentang kamu tapi aku disibukkan dengan persyaratan untuk dapat menjadi menajer. namun, rencana Allah itu memang selalu indah dan akhirnya aku dipertemukan kembali disini”.

            Sejenak, entah apa yang harus kukatakan lagi mendengarkan penjelasan panjang lebar darinya. Perasaanku bercampur aduk ternyata orang yang ku kagumi selama ini, dia juga mencintai ku dalam diamnya. Dan dia juga tak mengetahui jika selama ini aku mengaguminya. Sungguh tak pernah ku sangka sebelumnya, kejadiaan ini seperti sebuah mimpi. Yah sebuah mimpi dan hayalan yang menjadi nyata, sungguh sekenario Allah sangat lah indah, lebih indah dari yang kubanyangkan. Akhirnya aku menceritakan tentang perasaan ku padanya
ka Fauzan mungkin ini juga hal yang perlu kakak tau sebelumnya, semenjak aku semester 3 aku sudah kagum sama kakak, sampai sekarang perasaanku pun tetap sama pada kakak, walaupun dulu sempat aku mencoba melupakan kakak, akupun sedikit berhasil melupakanmu tapi setelah aku bertemu dengan ka fauzan lagi rasa itu kembali seperti semuala”.
Dan ka Fauzan pun kaget dengan perkataanku tadi “Jadi selama ini kamu juga punya perasaan sama aku, tapi kamu selalu pendam rasa itu?”.
“Iya ka” aku pun mengiyakan pertanyaan yang terlontar dari mulut ka Fauzan.
Kemudian ka Fauzan pun berbicara kembali “ sungguh indah rencana Allah yang diberikan kepada kita ya fin, ya udah  nanti minggu depan aku dan orang tuaku dateng ke rumahmu untuk meminta izin sekaligus melamar mu. Dan terima kasih untuk penantian mu sekian lama ini untuk ku  fin”.
Mendengar itu semua tubuh ku menjadi lemas seperti batu yang dahulu menindihku sekarang terangkat. “iya ka aku tunggu janjimu untuk melamar ku, lebih cepat lebih baik, dan terima kasih juga untuk semua jawaban atas penantian panjangku”.
 Sangat melegakan setelah ku mengetahuinya, ternyata selama 5 tahun aku dan ka Fauzan menjalin sebuah hubungan pacaran. Namun berbeda pacaran orang-orang dengan pacaran yang kita jalani. Pacaran kita bukan lewat pertemuan, makan bersama, nonton bersama tetapi pacaran kita dalam doa.

            Setelah perbincangan semingu sebelumnya, ka Fauzan pun memenuhi janjinya untuk meminta izin kepada orang tua ku sekaligus melamarku. Dan orang tuaku  merestui kami. Dan mereka mengusulkan  untuk tidak menunda pernikahan. Yah akhirnya inilah jawaban dari semua kegelisahaanku, semua penantian ku, semua mimpiku dan doaku. Kini orang yang selama ini aku kagumi dalam diam akan menjadi raja dalam sebuah kerajaan kecil ku. Kini, perasaanku padanya  bukan hanya sebatas kasih namun akan menjadi sebuh kisah dalam ikatan. Dan juga dahulu aku dan kamu (ka Fauzan) akan menjadi kita. Itulah sekenario yang dibuat oleh sang sutradara terhandal didunia ini yaitu Allah, tak akan ada orang yang dapat menebak bagaimana perjalanan hidup seseorang kedepannya. Dan Allah memiliki rencana yang sangat indah, lebih indah lagi dari apa yang kita rencanakan. Jadi seharusnya kita sebagai manusia, makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan segala kelebihannya agar selalu bersyukur atas apa yang kita dapatkan dahulu, sekarang dan masa depan nanti karena sejatinya semuanya sudah tertulis indah dalam naskah perjalanan hidup manusia.


#Lomba Cerpen Parade Bulan Bahasa UNDIP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar