Minggu, 13 Maret 2016

This is y short story

This is my short story


Tepat pada tanggal 29 Februari 2016  saya melakukan  perjalanan pulang menuju kampung halaman dengan  menggunakan fasilitas KAI. Sepanjang perjalanan saya hanya sendiri, kala itu saya hanya membaca lingkungan yang ada disekitar ku. Pada satu titik dimana mata ku tertuju padanya, ada satu kondisi yang membuatku terkesan pada mereka. Tepat sampingku ada sesosok keluarga kecil dan muda yang memiliki dua orang anak yang masih kecil, Anak pertama sekitar umur 2 tahun dan anak kedua sekitar umur 8 bulan yang saat itu mereka sedang menidurkan anaknya. Melihat keluarga tersebut membuat saya semakin rindu pada keluarga yang ada dikampung halaman.


Sepanjang perjalanan  saya sendirian dan tidak ada yang mengajak saya mengobrol,  maka luapan kantuk pun menghampiri ku sehingga membuat mata ini terpejam dengan hitungan  detik. Namun, beberapa menit kemudian terdengar tangisan seorang anak yang membuat ku terbangun. Tangisan yang nyaring itu tepat berada disampingku, ternyata anak terkecil dari keluarga kecil itu terbangun dan menangis sehingga membuat sang ibu terbangun dari tidurnya untuk menenangkan-nya. Namun tangisan anak kecilnya pun tak kunjung reda.selang beberapa lama anak pertama pun terbangun (mungkin karena nyaring-nya tangisan anak terkecilnya kali ya) dan menangis pula sehingga membuat suasana gerbong kereta ramai tangisan anak kecil dan orang-orang sekitar yang sedang tertidur lelap terbangun karena-nya. Melihat kondisi tersebut membuat ibu yang sedang menenangkan anak terkecil menjadi kebingungan dan telihat tak enak karena mengganggu suasana lingkungan sekitar.  Sang ayah pun langsung membantu sang istri menenangkan anak pertamanya. Akhirnya dengan kesabaran mereka berdua tangisan kedua anaknya pun mereda dan terlelap tidur kembali.


Disini saya melihat ketulusan dari seorang ibu yang begitu dalam. Walaupun dalam kondisi lelah tak ada pancaran emosi kala meredakan tangisan anak-nya. Setelah anaknya berhenti menangis, sang ibu pun terlihat kelelahan dan tertidur besama kedua anaknya. Sementara itu sang ayah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Betapa indahnyamelihat pemandangan keluarga yang sangat bahagia. Dan sekali lagi membuat saya  ingin cepat sampai rumah dengan kerinduan kepada orang tua berserta adik saya.


Dengan pemandangan keluarga yang indah membuat saya teringat akan sesuatu hal. kadang kita sebagai seorang anak sering marah kepada kedua orang tua kita, kala apa yang kita inginkan tidak dipenuhi oleh orang tua kita atau kita marah ketika kita tidak suka apa yang dikerjakan oleh orang tua kita. Namun dibalik kemarahan yang kita luapkan kepada mereka,  apakah kita pernah berfikir bahwa kedua orang tua kita membesarkan kita tidak lah mudah. ketika kita dalam kandungan, sang ibu merawat kandungan-nya dengan susah payah membawa kita dalam perutnya kemanapun ibu pergi tanpa satu detik pun melepaskan kandungannya. Saat kita beranjak besar kita diajarkan segala hal dari cara makan dan minum yang baik,  cara berjalan, cara berbicara dan lain sebagainya. Saat kita beranjak remaja ibu kita mengajarkan bagaimana kita bergaul dengan teman, mengajarkan kita bagaimana hidup, dan mengajarkan segala sesuatunya. Begitupula sang ayah yang tak pernah lelah dengan keringat yang Ia keluarkan untuk mencari secercah nafkah bagi kebahagiaan keluarganya. Dan mereka lah sesosok orang yang membuat kita nyaman, selalu menerima kondisi kita dan selalu ada disamping kita memberikan semangat untuk terus bangkit dalam kondisi apapun. Itulah meraka yang seharusnya kita hormati dan sayangi bukan malah sebagai pelampiasan emosi kita. Sebagai seorang anak kita harus berbakti kepada mereka, mencoba membuatnya tersenyum, mencoba menerima kondisi apapun yang sedang mereka rasakan saat ini karena mereka lah kita ada. Dan juga perlu diingat tanpa ridho kedua orang tua kita, kita pun tak akan pernah mendapat ridho Allah (ridhollahi fi ridhol walidaini wa sukhtullahi fi sukhtul walidaini).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar