This
is my short story
Tepat
pada tanggal 29 Februari 2016 saya
melakukan perjalanan pulang menuju
kampung halaman dengan menggunakan
fasilitas KAI. Sepanjang perjalanan saya hanya sendiri, kala itu saya hanya
membaca lingkungan yang ada disekitar ku. Pada satu titik dimana mata ku
tertuju padanya, ada satu kondisi yang membuatku terkesan pada mereka. Tepat
sampingku ada sesosok keluarga kecil dan muda yang memiliki dua orang anak yang
masih kecil, Anak pertama sekitar umur 2 tahun dan anak kedua sekitar umur 8
bulan yang saat itu mereka sedang menidurkan anaknya. Melihat keluarga tersebut
membuat saya semakin rindu pada keluarga yang ada dikampung halaman.
Sepanjang
perjalanan saya sendirian dan tidak ada
yang mengajak saya mengobrol, maka
luapan kantuk pun menghampiri ku sehingga membuat mata ini terpejam dengan
hitungan detik. Namun, beberapa menit
kemudian terdengar tangisan seorang anak yang membuat ku terbangun. Tangisan
yang nyaring itu tepat berada disampingku, ternyata anak terkecil dari keluarga
kecil itu terbangun dan menangis sehingga membuat sang ibu terbangun dari
tidurnya untuk menenangkan-nya. Namun tangisan anak kecilnya pun tak kunjung
reda.selang beberapa lama anak pertama pun terbangun (mungkin karena nyaring-nya
tangisan anak terkecilnya kali ya) dan menangis pula sehingga membuat suasana
gerbong kereta ramai tangisan anak kecil dan orang-orang sekitar yang sedang
tertidur lelap terbangun karena-nya. Melihat kondisi tersebut membuat ibu yang
sedang menenangkan anak terkecil menjadi kebingungan dan telihat tak enak
karena mengganggu suasana lingkungan sekitar.
Sang ayah pun langsung membantu sang istri menenangkan anak pertamanya. Akhirnya
dengan kesabaran mereka berdua tangisan kedua anaknya pun mereda dan terlelap
tidur kembali.
Disini
saya melihat ketulusan dari seorang ibu yang begitu dalam. Walaupun dalam
kondisi lelah tak ada pancaran emosi kala meredakan tangisan anak-nya. Setelah
anaknya berhenti menangis, sang ibu pun terlihat kelelahan dan tertidur besama
kedua anaknya. Sementara itu sang ayah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang
dan perhatian. Betapa indahnyamelihat pemandangan keluarga yang sangat bahagia.
Dan sekali lagi membuat saya ingin cepat
sampai rumah dengan kerinduan kepada orang tua berserta adik saya.
Dengan
pemandangan keluarga yang indah membuat saya teringat akan sesuatu hal. kadang
kita sebagai seorang anak sering marah kepada kedua orang tua kita, kala apa
yang kita inginkan tidak dipenuhi oleh orang tua kita atau kita marah ketika
kita tidak suka apa yang dikerjakan oleh orang tua kita. Namun dibalik
kemarahan yang kita luapkan kepada mereka, apakah kita pernah berfikir bahwa kedua orang
tua kita membesarkan kita tidak lah mudah. ketika kita dalam kandungan, sang
ibu merawat kandungan-nya dengan susah payah membawa kita dalam perutnya
kemanapun ibu pergi tanpa satu detik pun melepaskan kandungannya. Saat kita
beranjak besar kita diajarkan segala hal dari cara makan dan minum yang
baik, cara berjalan, cara berbicara dan
lain sebagainya. Saat kita beranjak remaja ibu kita mengajarkan bagaimana kita
bergaul dengan teman, mengajarkan kita bagaimana hidup, dan mengajarkan segala
sesuatunya. Begitupula sang ayah yang tak pernah lelah dengan keringat yang Ia
keluarkan untuk mencari secercah nafkah bagi kebahagiaan keluarganya. Dan
mereka lah sesosok orang yang membuat kita nyaman, selalu menerima kondisi kita
dan selalu ada disamping kita memberikan semangat untuk terus bangkit dalam
kondisi apapun. Itulah meraka yang seharusnya kita hormati dan sayangi bukan
malah sebagai pelampiasan emosi kita. Sebagai seorang anak kita harus berbakti
kepada mereka, mencoba membuatnya tersenyum, mencoba menerima kondisi apapun
yang sedang mereka rasakan saat ini karena mereka lah kita ada. Dan juga perlu
diingat tanpa ridho kedua orang tua kita, kita pun tak akan pernah mendapat
ridho Allah (ridhollahi fi ridhol walidaini wa sukhtullahi fi sukhtul walidaini).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar